Senin, 21 Januari 2013

resensi dalam mihrab cinta




Judul : Dalam Mirhab Cinta
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika,Cetakan Pertama,juni 2007
Tebal : 328 halaman

                Habiburrahman El Shirazy  adalah sarjana Al Azhar University Cairo.Founder dan pengasuh Utama pesantren Karya dan Wirausaha BASMALA INDONESIA, yang berkedudukan  di semarang, Jawa Tengah. Ia dikenal secara nasional sebagai dai, novelis, dan penyair. Beberapa penghargaan bergengsi telah diraihnya, antara lain, Pena award 2005, The Most Faforit Book and writer2005, dan IBF award 2006. Tak jarang ia diundang untuk berbicara di forum-forum nasional  maupun internasional, baik dalam kapasitasnya sebagai dai, novelis, serta penyair.Seperti di Cairo,Mesir,Hongkong, dan lain-lain. Karya-karyanya selalu dinanti oleh khalayak karena di nilai membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi.Diantara karya-karyanya yang telah beredar di pasar adalah Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Diatas Sajadah cinta , Ketika cinta berbuah surga, dan ketika Cinta Beertasih.

                Siang itu Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah pagu,Kediri , jawa Timur geger. Seorang pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri  yang diyakini mencuri. Bebrapa orang santri terus mengejar santri berambut gondrong itu. Santi itu mengaduh dan meminta ampun. (hal 125)
                “ampun , tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri !” Santri yang sudah berdarah-darah mengiba.
                “ayo menagaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!” Teriak santri berkopiah hitam degan wajah yang sangat geram.
                “Sungguh, bukan saya pelakunya” so rambut gondrong itu tetap tidak mau mengaku. Serta merta dua buah bogem melayang ke wajahnya. “Nich rasain pencuri” teriak Ketua Bagian Keamanaan yang turut melayangkan pukulan. Si gondrong iru pun mengaduh lalu pingsan .
                Menjelang Ashar  si gondrong itu pun siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh . ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia merasa kematian ada di depan mata.(hal 135-138)
                Diluar gudang para santri ramai berkumpul. Meraka  meneriakkan kemarahan dan kegeraman pada si gondrong itu.
                “Maling jangan di beri ampun!’’
                “Hajar saja maling itu sampai mampus!”
                “Wong maling kok ngaku-ngaku santri, ini kurang ajar, tak bias diampuni!”
                Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian  pintu gerbang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena sangking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi lurah pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga . Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin.

                Kelebihan dalam buku ini adalah jenis huruf/fontase, ukuran, lebar kolom, dan spasi baris yang dipakai  dalam buku ini telah melalui serangkaian penelitian panjang, dan terbukti paling efektif untuk kecepatan/optimalisasi membaca dan memahami, dan efektif bagi semua usia : tua-muda.
                Kekurangan dalam buku ini adalah dalam penggunaan kertas yang kurang baik. Penggunan bahasa yang tedapat di novel ini banyak memberi keterangan sehinnga membuat pembaca sedikit pusing membacanya.
                Membaca novel ini berguna untuk semua usia baik tua maupun muda karena Novel Dalam Mirhab Cinta ini dinilai membangun jiwa dan menumbuhkan semangat prestasi.









0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates