Senin, 18 Februari 2013
Jenis
Buku : Novel
Judul
: Hafalan Shalat Delisa
Pengarang
: Tere – Liye
Penerbit
: Republika
Tahun
terbit, Cetakan ke- : 2008, Cetakan ke-7
Jumlah
Halaman : 270 halaman
Novel
yang dikarang Tere – Liye ini sebenarnya dilatar belakangi oleh kejadian
Tsunami 2004 di Aceh. Saat itu, sang pengarang yang kebetulan menonton berita,
melihat berita tentang seorang anak perempuan Aceh yang kakinya terpaksa
diamputasi karena bencana tersebut. Setelah itu, maka ia bersumpah untuk
membuat novel yang bertemakan kehjadian tsunami tersebut, yang akhirnya
terwujud dalam novel ini.
Novel ini diawali oleh kisah tentang kehidupan sebuah keluarga
yang bahagia, harmonis serta religius. Dalam kesehariannya, keluarga ini diurus
oleh Ummi-nya, karena ayahnya bekerja di Luar Negeri dan
baru pulang beberapa bulan sekali. Di keluarga ini, terdapat tradisi, anak yang
telah hafal bacaan shalat maka akan dibelikan hadiah kalung. Dan pada hari
Delisa-si putri bungsu- sedang ujian bacaan shalatlah, semua petualangan, ujian
dan kisah – kisah yang mengharukan dimulai.
Tsunami
yang terjadi pada hari itu, merubah hidup Delisa 180 derajat. Saudara –
saudaranya meninggal, Ibunya hilang bersama kalung hadiahnya. Kalung indah
dengan liontin “D” untuk Delisa. Belum lengkap, kaki si kecil Delisa pun
terpaksa diamputasi. Tapi yang mengherankan, bagaimana Delisa yang baru berusia
6 tahun, tetap ingat dan memikirkan bacaan shalatnya, berusaha menghafalnya.
Yang nantinya, segera setelah ia hafal dan melakukan shalat pertamanya dengan
bacaan shalat yang lengkap , menghantarkan ia pada hal yang sangat menakjubkan.
Yang menarik dari novel ini adalah, adanya bait – bait puisi
yang disertakan pada setiap akhir bab cerita,-kadang saat peristiwa-peristiwa
penting- yang seolah – olah menyemangati Delisa serta menggugah hati kita lebih
dalam tentang makna yang terkandung dalam novel tersebut. Ini juga dilengkapi
oleh penggunaan bahasa yang mungkin tidak “sastra” , tetapi “to the point”dan
sederhana, yang membuat pesan lebih tersampaikan ke semua kalangan pembaca.
Seolah – olah , penulis memang mempunyai maksud yang kuat untuk menyampaikan
amanat yang terkandung dalam novel ini, yang mungkin dikarenakan juga oleh
latar belakang penulisan novel ini.
Adapun
hal yang menjadi sorotan resensator–kalaupun tidak disebut sebagai kelebihan-
adalah sikap Delisa yang tampak sangat dewasa, melihat usianya yang baru 6
tahun. Sikapnya saat menerima berbagai cobaan yang dihadapinya tidak cocok
dengan umurnya . Nilai plusnya adalah para pembaca menjadi lebih terharu
hatinya karena berkaca pada sikap Delisa dalam menerima cobaan. Selain itu,
terkadang pembaca menjadi rancu mengenai latar dan tempat karena perubahan yang
tiba – tiba. Tetapi untungnya, jalan cerita yang menghanyutkan membuat kita
tidak peduli akan kerancan ini.
Pada
akhirnya, dengan segala kandungannya, novel ini wajib dibaca oleh mereka yang
sedang merenungi dan mencari makna dan arti hidup yang sebenarnya. Bahkan bagi
para remaja juga dianjurkan membaca novel ini, karena akan memperkaya nilai –
nilai kehidupan dalam proses pencarian jati diri mereka. Energi untuk ‘hidup’
yang dibawa oleh novel ini sangatlah besar, dan bisa membuka sudut pandang yang
baru tentang kehidupan ini. Resensator pun maklum jika nantinya, air mata para
pembaca jatuh menetes saat membuka lembaran – lembaran novel ini. Selamat
Membaca!(Alvin Aulia Fardana)
Label: resensi Novel
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)




