Senin, 11 Februari 2013

Indische Partij

-->

INDISCHE PARTIJ









Indische Partij adalah organisasi yang didirikan oleh Tiga Serangkai. Tiga serangkai terdiri atas Ki Hajar Dewantara,dr.Cipto Mangunkusumo dan dr.EFE Douwes Dekker/Danur Dirjo Setiabudi,pada tahun 25 Desember 1912. Anggota Indische Partij terbuka bagi seluruh lapisan rakyat yang mendiami Indonesia. Indische Partij adalah organisasi yang pertama kali bergerak dalam bidang politik dengan haluan asosiasi dan kooperatif. Dengan demikian , dapat dikatakan bahwa IP merupakan partai politik
pertama di Indonesia dengan haluan koperasi. Dalam waktu yang singkat telah mempunyai 30 cabang dengan anggota lebih kurang 7.000 orang
, yang kebanyakan orang Indo. Oleh karena sifatnya yang progresif menyatakan diri sebagai partai politik dengan tujuan yang tegas, yakni Indonesia merdeka sehingga pemerintah menolak.Untuk mewujudkan cita-citanya, Indische Partij dalam program kerja telah menetapkan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    meresapkan cita-cita kesatuan nasional Hindia (Indonesia),
2.   memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan, baik di bidang pemerintahan maupun kemasyarakatan,
3.   berusaha untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia,
4.   memperbesar pengaruh pro-Hindia di dalam pemerintahan,
5.   meningkatkan pengajaran yang kegunaannya harus ditujukan untuk kepentingan ekonomi Hindia,
6.   memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Hindia, terutama dengan memperkuat mereka yang memiliki ekonomi lemah,
7.   memberantas usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satu dan agama lainnya.

Walaupun salah satu anggota Indische Partij merupakan keturunan Belanda (Douwes Dekker),tetapi organisasi ini tidak mengenal supremasi golongan indo atas golongan pribumi bahkan terjadi peleburan antara golongan indo di Indonesia.Tujuan Indische Partij ialah membangun lapangan hidup dan menganjurkan kerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air Hindia Belanda untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.Indische Partij didirikan atas dasar nasionalisme yang luas,dan merupakan partai politik yang pertama.Konsep kebangsaan dalam tubuh Indische Partij disebarluaskan oleh Douwes Dekker karena ia berpendapat bahwa rakyat Indonesia harus dibebaskan dari belenggu penjajahan.  Cita-cita perjuangan Indische Partij disebarluaskan melalui surat kabar  De Express.Karena IP merupakan partai yang tegas dan menyatakan ingin memerdekakan Indonesia,maka Belanda melarang Indische Partij beroperasi. Walaupun demikian , tokoh-tokoh Indische Partij tetap berjuang, seperti Ki Hajar Dewantara yang mengkritik pelaksanaan HUT Kemerdekaan Belanda di Indonesia melalui tulisan yang berjudul Als ih Een Nederlender (Seandainya Saya Seorang Belanda).Tulisan ini berisi sindiran terhadap ketidakadilan di daerah jajahan. Ki Hajar Dewantara dan Dauwes Dekker baru kembali pda tahun 1919. Akibat tulisan tersebut, Belanda menjatuhkan hukuman pengasingan kepada ketiganya. Douwes Dekker diasingkan ke Timor, dr Cipto Mangunkusumo diasingkan ke Banda, dan Suwardi Suryaningrat diasingkan ke Bangka. Hukuman itu kemudian diubah. Ketiganya boleh memilih tempat pengasingan ke luar negeri. Mereka akhirnya memilih Negeri Belanda. Akibat pengasingan tersebut pengikut dan pendukung Indische Partij bubar dan banyak yang masuk ke dalam perkumpulan Insulinde, yakni organisasi peranakan Eropa dan orang Eropa yang ingin tetap tinggal di Hindia.Setelah pemimpinanya dibuang,IP mengganti nama menjadi Nasional Indische Partij tetapi kurang berpengaruh.Walaupun perjuangan Indische Partij sangat singkat,namun tujuannya telah memberi warna baru bagi organisasi pergerakan nasional yaitu adanya semangat nasionalisme yang mendalam untuk merpejuangkan nasib rakyat Indonesia.Dalam perkembanganya,Indische Partij di jadikan motivasi oleh Perhimpunan Indonesia dan Partai Nasional Inndonesia.
Pada tahun 1918, tokoh Tiga Serangkai diperbolehkan pulang ke Tanah Air. Di Tanah Air, ketiga tokoh tersebut segera bergabung dengan Insulinde dan mempunyai pengaruh besar di dalamnya. Akhirnya, perkumpulan itu dapat menjadi partai yang berjuang menuju kemerdekaan. Oleh karena pengaruh SI sangat kuat menyebabkan Partij Insulinde makin lemah. Dengan perkembangan baru tersebut, pada bulan Juni 1919 Partij Insulinde diubah namanya menjadi National Indische Partij (NIP). Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker kembali menjadi pengurus besarnya. National Indische Partij menyusun anggaran dasar baru. Maksud dan tujuan organisasinya hampir sama dengan Indische Partij sehingga pada tahun 1923 National Indische Partij dilarang beraktivitas politik pemerintah Belanda. Pemimpin partai kemudian memutuskan tidak akan mendirikan partai lagi dan menganjurkan supaya para anggotanya memasuki salah satu partai yang ada untuk melanjutkan perjuangan. Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat melanjutkan perjuangan melalui jalur pendidikan. Douwes Dekker membuka perguruan nasional dengan nama Kesatrian Institut setingkat SD di Pasir Kaliki, Bandung. Suwardi Suryaningrat pada tahun 1922 mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Setelah mendirikan Taman Siswa, Suwardi Suryaningrat lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Dokter Cipto Mangunkusumo melanjutkan perjuangan politik secara bebas dan menerbitkan surat kabar berbahasa Jawa yang bernama Panggugah.

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates